Sunday, November 1, 2009

Mimpi Malam Ini

Malam ini hujan.
Aku dan secangkir susu coklat serta sebungkus rokok yang tak kunjung ku bakar. Menulis sekerat mimpi dalam tidur. Aku dan hujan, hujan dan aku. Aku yang merindukan hujan layaknya merindukan kekasih. Aku menghindari matahari layaknya aku menghindari kenyataan. Aku selalu berharap hujan turun setiap hari supaya aku tidak perlu kemana-mana. Aku akan menghabiskan hariku di rumah, di kamarku yang kecil namun penuh kehangatan yang tidak dirasakan oleh orang lain. Kadang menonton TV kemudian termenung meringkuk di dalam selimut.Aku akan membayangkan kesibukan orang di jalanan di tengah terpaan hujan. Pasti mereka menggerutu karena jalanan macet dan itu membuat mereka terhambat mencapai apa yang mereka inginkan. Aku tertawa dalam hati karena aku tidak memiliki tujuan apa-apa. Aku hidup untuk hari ini dimulai dari aku membuka mata hingga ku menutup mata di malam hari. Akulah si pecundang kehidupan yang tak mampu melakukan apa-apa. Hanya bisa berharap tanpa berusaha. Untuk itu aku selalu berdoa agar Tuhan menurukan hujan setiap hari agar aku dapat terus meringkuk di dalam selimutku dan terisolasi dari dunia luar. Aku belum sempat memeriksakan diriku ke dokter ahli kejiwaan tapi aku merasa aku mengalami kelainan pribadi. Aku tidak gila. Hanya saja aku terlalu datar untuk hidup ini. Dunia butuh orang yang dinamis dan aku tidak termasuk dalam bagian itu. Aku berada di kelompok minor. Tidak tertindas namun menindaskan diri sendiri. Aku selalu bertanya pada Tuhan pada saat turun hujan mengapa dia menjadikan aku seperti ini. Seperti manusia kardus yang hanya mengiba dan mengutuk kehidupan ini. Aku tidak gila. Hanya saja aku tidak suka dengan ambisi dan obsesi akan sesuatu karena aku terluka oleh mereka. Ambisi selalu membuatku terus berlari meski aku lelah dia tidak akan membiarkan aku berhenti. Obsesi membuatku tersiksa dengan segala harap dan khayal yang semakin lama semakin tidak masuk akal. Aku benci mereka berdua. Bila ada yang harus dibunuh malam ini maka ambisi dan obsesi yang akan aku bunuh. Aku tidak gila. Aku hanya tersiksa.

Aku merindukan hujan layaknya merindukan kekasih yang tak kunjung datang. Aku tahu hujan tiada pernah akan turun lagi. Aku telah kehilangan semua yang kusayang dan kucinta. Tuhan tak pernah iba padaku, aku selalu mengiba padaNya. Aku lelah. Aku dan hujan, hujan dan aku. Aku selalu mengharap hujan turun selama 365 hari terus-menerus. Secuil kesenangan di tengah kejamnya dunia.

No comments:

Post a Comment